13 ASSASSINS

Kalo ada orang Jepang yang identik dengan kata Gore & Disturbing Film, menurut gua cuma ada 2 nama, pertama adalah Nishimura & yang kedua adalah Takashi Miike. Walaupun sebenernya sinema Jepang selalu nunjukin sesuatu yang eksplisit, nyeleneh & selalu bikin kita mikir kata Fetish itu identik sama tentakel gurita & populasi sutradara film bakalan selalu bertambah, tapi nama Takashi Miike tetep ada diurutan paling atas & terdepan dalam hal bikin film yang mengganggu. Lewat 13 Assassins ini kita bakalan liat seberapa ‘mengganggunya’ hasil besutan Miike di film remake ini.

13 Assassins dimulai dengan kebiadaban seorang pemimpin/landlord/juragan bernama Naritsugu yang masih berafiliasi atau punya hubungan family sama Shogun. Oke kita belajar sejarah sedikit, di dalam tatanan masyarakat Jepang yang kebetulan film ini ada di jaman Restorasi Edo, eksistensi seorang Shogun sangat di hormati sama orang Jepang pada umumnya. Shogun itu ibaratnya adalah orang yang disegani, punya kuasa & punya kedudukan didalam strata masyarakat Jepang di jaman itu. Punya hubungan sama Shogun jelas ngejadiin Naritsugu seorang yang seenaknya aja ngelakuin hal yang dia suka, menindas & ngebunuhin orang nggak bakalan bikin dia masuk penjara, karena apa? Karena dia punya hubungan sama Shogun. Sama halnya kalo lo punya hubungan sama Tommy Winata kalo misalnya lo tinggal di Indonesia.

Karena dia punya hubungan sama Shogun, walaupun Naritsugu hobinya adalah sering merkosa, ngebunuh anak kecil & mutilasi orang yang dia nggak suka, tapi tetep aja Naritsugu bakalan diangkat jadi salah satu pemimpin politik di negerinya Maria Ozawa itu. Hal ini jelas jadi suatu hal yang ditakutin karena bakalan bikin Jepang masuk di abad kegelapan dengan dipimpin sama pemimpin kayak si Naritsugu. Akhirnya dibikin skenario buat ngebunuh Naritsugu dengan bantuan 13 Assasins yang siap mutusin setiap urat di tubuh Naritsugu.

Ngebunuh Naritsugu dengan bantuan 13 Assasins keliatannya adalah hal sepele kayak ngebohongin pacar lo dengan alasan ‘ada lembur di kantor padahal lo maen ke Spa sama temen-temen kantor lo.’ Tapi ternyata karena Naritsugu punya naluri bajingan takut mati plus ditambah sanak saudara Shogun, otomatis Naritsugu bakalan punya PASPAMPRES para Samurai demi ngejagain dia buat nggak diusik sama seekor nyamuk pun, walaupun nyamuk itu segede John Kei.

Akhirnya dengan skenario 13 Assasins yang disini 13 Assasisns itu adalah para Samurai yang kemana-mana bawa Katana, dijebaklah Naritsugu disuatu kampung yang udah disiapin jebakan yang dipasang sama 13 Assasins jagoan kita. Tapi seperti yang diperkirakan para 13 Assassins yang dipimpin sama seorang Samurai kawakan bernama Shinzaemon, ternyata Naritsugu nggak cuma dikawal sama 70 Samurai, tapi di kawal sama 200 orang Samurai yang keahliannya pun sama lihainya dengan 13 Assasins jagoan kita. Berhubung nasi udah jadi bubur & mundur dari medan perang adalah haram hukumnya bagi seorang Samurai, maka 13 Assasins jagoan kita tetep ngelaksanain jebakan & serangan buat ngebunuh Naritsugu. Pertempuran ini jelas nggak sebanding kayak 5 orang Pandawa lawan ribuan Kurawa, tapi kode etik samurai tetep harus dijalanin walaupun 13 Assassins jagoan kita nggak dimodalin sama kantong Doraemon.

Pertempuran nggak sebanding adalah playground buat Miike. Disini kita bakalan ngeliat susah payahnya 13 orang Samurai jagoan nebasin kepala 200 orang Samurai Naritsugu. Miike sebagai sutradara tetep ngumbar tebasan kepala, potongan tubuh serta sayatan Katana tanpa jeda & efek kamera yang nggak dibikin lebay. Momen heroik para Samurai ditebar di segala penjuru tanpa harus ditutupin & ramah gunting badan sensor. Miike mempraktekkan ‘Go Rin No Sho’ dari kursi sutradara. Tebas ya tebas, sayat ya sayat & Samurai pasti bakalan maenin Katana sesuai dengan khitahnya.

Kalo lo mikir…. Atau gua mikir & berharap ini bakalan sama kayak film Miike lainnya, mungkin gua bakalan menyesal. Karena ternyata 13 Assassins ini agak sedikit ramah di mata daripada film Miike lainnya. Nggak ada adegan ‘mengganggu’ kayak biasanya dibikin Miike. Menurut gua semua berjalan apa adanya. Samurai itu tugasnya adalah nebas anggota badan & ngebunuh orang, ya udah tunjukkin tuh potongan tubuhnya. Segitu menurut gua nggak mengganggu, nggak ada adegan sakit kayak film Miike lainnya. Kalo pun ada paling cuma adegan cewek abis di mutilasi. Tapi adegan itu pun tetep jinak dimata, setidaknya menurut gue.

Walaupun begitu ‘ramahnya’ film ini buat gue, nggak tau kenapa temen gua yang katanya suka nonton film Action bilang film ini lebih sadis daripada Ninja Assasin yang dimainin sama Rain. Oh oke, Rain adalah aktor populer, Ninja Assasin adalah film Drama berbalut Action. Mungkin temen gua yang salah dalam pemaknaan genre film. Tapi film ini jelas bukan film drama apalagi film horror. Film ini ya menurut gue adalah film Action. Mungkin ini adalah film Action ala Takashi Miike yang kebetulan di Remake dari film lawas bikinan Eichi Kudo.

Pertanyaan gua walaupun ini film action yang dibikin raja film J-Gore. Kenapa Miike nggak bikin sesuatu yang bergidik kayak dulu dia bikin ‘Ichi The Killer?’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: